“Berdoa dan Berbakti Bagi Bangsa”
Tahun ini, bangsa kita Indonesia akan merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 81. Kita mensyukuri bahwa sampai saat ini, ada begitu banyak kemajuan yang terjadi sebagai bagian dari kesediaan dan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan. Namun kita juga menyadari bahwa tidak sedikit tantangan yang masih terus dihadapi oleh bangsa kita di era kemerdekaan. Setiap hari kita mendengar berita tentang bangsa ini. Korupsi yang menggurita, pendidikan yang tertinggal, kemiskinan, kenakalan remaja, prostitusi online, kasus AIDS/HIV, konflik sosial, kerusakan lingkungan, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta berbagai persoalan lain yang seolah tidak pernah selesai. Berita-berita itu datang silih berganti melalui televisi dan media sosial. Persoalannya bukan lagi apakah kita mengetahuinya, tetapi apakah kita masih merasakannya sebagai masalah serius. Sering kali kita menjadi terbiasa dan kebal, serta apatis/acuh tak acuh. Yang dahulu membuat hati kita sedih, kini hanya menjadi informasi yang lewat begitu saja. Hari ini kita memasuki Bulan Kebangsaan GMIT. Di sepanjang bulan ini, kita diajak mengingat kembali bahwa kita dipanggil bukan hanya menjadi warga Kerajaan Allah, tetapi juga warga Negara Indonesia. Kita hidup, bekerja, membesarkan anak, dan melayani di tengah bangsa ini. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya sebagai orang yang percaya kepada Allah merespon keadaan bangsanya? Mari kita belajar dari Nehemia. Terhadap kondisi bangsanya yang hancur, jawaban Nehemia bukanlah kemarahan, bukan pula sikap apatis. Ia menunjukkan sebuah perjalanan rohani: mendengar, merasakan, berdoa, lalu mengabdikan diri. Penjelasan Teks Nehemia memulai kisahnya bukan dengan penglihatan spektakuler, tetapi dengan sebuah percakapan sederhana. Ia bertanya kepada Hanani tentang keadaan Yerusalem. Berita yang diterimanya sangat menyedihkan: bahwa orang-orang yang tinggal di Yerusalem hidup dalam kesusahan besar dan kehinaan; tembok Yerusalem telah runtuh dan pintu-pintu gerbangnya terbakar. Bagi kita, mungkin tembok hanyalah bangunan batu. Tetapi bagi Israel, tembok melambangkan keamanan, martabat, dan identitas umat Allah. Kota tanpa tembok bukan sekadar kota yang rusak; kota itu menjadi lambang umat yang kehilangan kehormatan di hadapan bangsa bangsa. Karena itu, Nehemia tidak mendengar sekadar laporan pembangunan yang gagal. Ia mendengar jeritan sebuah bangsa. Ada beberapa poin penting dalam bacaan ini. Pertama, hati seorang hamba. Waktu itu Nehemia berada jauh di Susan, pusat Kekaisaran Persia. Ia memiliki jabatan bergengsi sebagai juru minuman raja. Hidupnya relatif aman. Ia bisa saja berkata, "Itu bukan urusanku." Tetapi justru di sinilah kita melihat hati seorang hamba dari Allah. Dalam ayat 4 Nehemia berkata, "Ketika kudengar berita itu, aku duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa kepada Allah semesta langit." Lihat urutannya: Ia mendengar. Lalu ia merasakan. Kemudian ia berdoa. Hatinya sungguh sakit ketika mendengar keadaan bangsanya terpuruk. Itulah hati seorang hamba yang benar-benar peka terhadap kondisi bangsanya. Sering kali kita melakukan kebalikannya. Kita mendengar banyak problem, tetapi tidak lagi merasakan apa-apa. Hati kita menjadi kebal oleh terlalu banyak informasi. Kita mengetahui begitu banyak persoalan bangsa, tetapi sedikit sekali yang benar -benar menyentuh hati. Bahkan kadang-kadang kita memandang suatu masalah dengan sebelah mata. Misalnya ketika muncul berita tentang prostitusi onlie di kalangan remaja, kita menyangkal berita itu seolah apa yang diberitakan tidak benar, atau kita tidak merasa bersalah sebagai gereja yang punya tanggung jawab mendidik anak-anak secara serius. Nehemia mengajarkan bahwa kepedulian kepada bangsa dimulai ketika kita mengizinkan penderitaan bersama atau persoalan sosial yang terjadi memasuki hati kita. Kepekaan bukan kelemahan. Kepekaan adalah karunia rohani. Hati harus dilatih agar senantiasa peka terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi. Kedua, berdoa bagi bangsa. Ketika mendengar keadaan bangsanya, Nehemia menangis. Namun tangisan Nehemia bukanlah tangisan putus asa. Tangisannya berubah menjadi doa. Di sinilah pusat teologis pasal ini. Hal pertama yang dilakukan Nehemia adalah memandang kepada Allah. Ia berdoa: "Ya TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang perjanjian dan kasih setia..." Nehemia tidak memulai dengan besarnya masalah, melainkan dengan besarnya Allah. Kita sering memulai doa dengan daftar persoalan. Nehemia memulai dengan mengingat siapa Allah yang ia sembah. Sebelum memandang tembok yang runtuh, ia terlebih dahulu memandang Allah yang memegang sejarah. Karena itu, doa bukanlah pelarian dari kenyataan. Doa adalah melihat kenyataan dari sudut pandang Allah. Ketiga, ikut bertanggung jawab atas dosa bangsa. Doa Nehemia berisi pengakuan dosa bangsanya. Nehemia berkata,"Aku dan kaum keluargaku telah berdosa." Kalimat ini sangat menarik. Sesungguhnya Nehemia tidak ikut membangun penyembahan berhala yang menyebabkan pembuangan. Ia bahkan lahir di tanah Persia. Namun ia tidak berkata, "Mereka telah berdosa." Ia berkata, "Kami telah berdosa." Di sinilah kita melihat Nehemia mengidentifikasi diri dengan bansganya, ikut mengambil bagian dalam tanggung jawab dosa yang dilakukan bangsanya. Nehemia tidak berdiri di luar bangsanya sebagai hakim yang menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Seringkali kita dengan mudah sekali berbicara tentang dosa bangsa. Kita sulit berkata, "Tuhan, kami pun ikut bertanggung jawab." Konsekuensi praktisnya, kita diam ketika melihat ketidakadilan. Kita membiarkan korupsi menjadi biasa. Kita tidak berani bersuara melihat kekuasaan yang korup dan tidak melayani masyarakat. Kita menuntut perubahan dari orang lain, tetapi lambat berubah sebagai warga negara maupun warga gereja. Doa syafaat yang sejati selalu dimulai dari kerendahan hati. Keempat, dalam doa, Nehemia mendasarkan harapannya pada kesetiaan Allah. Nehemia mengingat janji Allah kepada Musa. Ia mengutip firman Tuhan bahwa sekalipun umat tercerai berai karena ketidaktaatan, Allah akan mengumpulkan mereka kembali apabila mereka bertobat. Nehemia tidak mendasarkan harapannya pada keadaan bangsanya, tetapi kepada kesetiaan Allah. Ini sangat penting bagi gereja di Indonesia. Kalau kita melihat keadaan bangsa hanya dengan mata manusia, kita mudah menjadi sinis. Kita berkata, "Negeri ini tidak akan berubah." Tetapi orang percaya tidak hidup dari optimisme kosong. Harapan kita bukan berasal dari kemampuan manusia memperbaiki bangsa. Harapan kita berasal dari Allah yang tetap setia kepada janji-Nya. Itulah sebabnya gereja tidak pernah berhenti berdoa bagi bangsa, bukan karena bangsa selalu layak didoakan, melainkan karena Allah selalu layak dipercaya. Kelima, tidak hanya doa, tapi berbakti bagi bangsa. Doa Nehemia tidak berhenti pada kata "amin." Ayat terakhir memberi kejutan. "...dan aku ini adalah juru minuman raja." Kalimat ini tampaknya hanya informasi biografi. Padahal sebenarnya inilah jembatan menuju seluruh kitab Nehemia. Nehemia sedang berkata, "Tuhan, pakailah posisi yang Engkau percayakan kepadaku." Ia tidak hanya meminta Allah mengirim seseorang. Ia siap menjadi utusan Allah. Inilah hubungan antara berdoa dan berbakti. Doa yang sejati selalu mempersiapkan kita menjadi bagian dari jawaban Allah. Empat bulan kemudian Nehemia berdiri di hadapan raja Artahsasta. Ia mempertaruhkan kariernya. Ia meminta izin. Ia berangkat ke Yerusalem. Di sana ia memimpin pembangunan. Ia menghadapi ancaman. Ia mengorganisasi rakyat. Ia membangun kembali tembok yang runtuh. Di sini kita melihat bahwa Allah menjawab doa Nehemia melalui Nehemia sendiri. Aplikasi Nehemia memulai semuanya dengan duduk dan menangis ketika bangsanya terpuruk. Tetapi ia tidak berhenti di sana. Tangisan berubah menjadi doa. Doa berubah menjadi keberanian. Keberanian berubah menjadi pelayanan. Dan pelayanan dipakai Allah untuk memulihkan kehidupan umat-Nya. Maka marilah kita meminta Tuhan memberi kita mata yang mau melihat, telinga yang mau mendengar, hati yang mau menangis, lutut yang tekun berdoa, dan tangan yang siap bekerja. Hari ini, ketika GMIT memasuki Bulan Kebangsaan, kita belajar berdoa dan berbakti yang benar bagi bangsa. Berdoa bagi bangsa bukan sekadar memasukkan Indonesia dalam pokok doa setiap hari Minggu. Berdoa bagi bangsa berarti membiarkan hati kita digerakkan oleh apa yang menggerakkan hati Allah. Kita belajar peka terhadap persoalan bangsa, ikut merasakan problem yang ada. Lebih dari itu, berbakti bagi bangsa bukan hanya tugas pemerintah. Itu adalah panggilan setiap warga negara, termasuk gereja. Sebagai guru, kita berbakti melalui pendidikan yang jujur dan tanggung jawab penuh. Sebagai petani dan nelayan, kita berbakti dengan rajin bekerja dan memelihara ciptaan. Sebagai ASN, kita berbakti dengan integritas dan pengabdian sungguh-sungguh. Sebagai mahasiswa, kita berbakti dengan belajar sungguh-sungguh agar sukses. Sebagai pelayan gereja, kita berbakti dengan menghadirkan kasih Kristus dalam masyarakat dan berani menyatakan suara kenabian kepada kekuasaan yang korup. Sebagai warga negara, kita berani menyuarakan kebenaran, menolak korupsi, merawat persaudaraan, menghargai perbedaan, menjaga keutuhan bangsa, dan menghadirkan damai di lingkungan tempat Tuhan menempatkan kita. Kita dipanggil bukan untuk menguasai bangsa, merampok kekayaannya dan memperkaya diri, melainkan melayani bangsa, menghadirkan kasih Allah bagi sesama. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang, seperti Nehemia, bersedia berkata kepada Tuhan: "Pakailah aku untuk menjadi bagian dari jawaban doa bagi bangsaku." AMIN